Join MultiplyOpen a Free ShopSign InHelp
MultiplyLogo
SEARCH
HomeHello, Tomodachi!Jul 1, 2005
Thanks for visiting my uswahabibah.multiply.com. Feel free to visit and leave comments.

Blog EntryOct 28, '08 1:10 AM
for everyone
coba tanya padaNya
kapan kadaluarsa cerita kita
kok nggak ada tanggal apa-apa di kotaknya?

masih lamakah?
besok?
lusa?

kalau kutahu
sehari sebelum tanggal itu
kupeluk erat waktu
kupeluk tubuhmu
hingga kudengar dentang
dan saat itu pun datang

kapan?
kapan?
kapan?

bukan ku tak sabar menanti perpisahan
bukan ku mengharap dalam kesendirian

aku hanya sedang menyiapkan genderang perang
dengan Dia tempat bergantung segala harapan


kalibata, 28 oktober 2008

Blog EntryOct 28, '08 12:26 AM
for everyone
aku menyayangimu,
dengan segala gerutumu menungguku berlama-lama mengikat tali sepatu

aku janji besok bangun pagi, kataku mencoba lelehkan diammu
aku janji besok cepat mandi, kataku mencoba hangatkan matamu

dan aku tetap lupa bangun pagi, apalagi buru-buru mandi
apalagi alasanmu hari ini, tanyamu
air mati
alarm nggak bunyi
ditelpon temen sampai pagi?

ugh...

gerutumu,
cemberutmu,
diammu,
datang selalu
di pagiku yang terburu-buru

dan aku tahu,
itulah yang akan kurindu
membunuhku
andai tuhan tak mau
gerutumu hadir selalu
di pagiku yang buru-buru


kalibata, 28 oktober 2008


MusicOct 9, '08 1:07 AM
for everyone
Piste 3   
Real To Me  Brian McFadden 

Blog EntryOct 9, '08 12:26 AM
for everyone
“Ya Tuhan, bertahun-tahun aku berdoa pada-Mu, memohon agar Kau lepaskan aku dari kemiskinan yang sekian lama menjerat kehidupanku, tapi nyatanya sampai kini aku tetap miskin dan bahkan bertambah miskin, hingga aku menganggap bahwa Engkau tak pernah mendengar doaku, apalagi mengabulkannya. Karena saat ini aku sudah tak punya apa-apa lagi selain badan dan sepasang pakaian yang kukenakan, aku ingin memohon pada-Mu untuk yang terakhir kali. Kalau sampai Matahari terbit esok hari Engkau tak juga mengabulkan doaku, aku mohon ampun pada-Mu untuk yang terakhir pula, sebab setelah itu aku akan meninggalkan-Mu.”

Itulah doa terakhir Monsera, seorang penduduk miskin yang tinggal di pinggiran Kota Ampari, ibukota negeri Kalyana. Setelah itu ia menutup pintu rumah tempat tinggalnya, menguncinya dan menyerahkan kunci pada si empunya rumah yang telah berbulan-bulan menagih tunggakan uang sewa padanya.

"Suatu saat saya akan kembali untuk membayar utangku.”

Si empunya rumah cuma tersenyum sinis dan membiarkan Monsera pergi.

Monsera lalu berpamitan pada para tetangga, pemilik warung makan, pemilik toko kelontong, penjual minyak tanah, ialah semua yang berpiutang padanya dengan ucapan sama, “Suatu saat saya akan kembali untuk membayar semua utangku.” Dan semua juga membiarkannya pergi tanpa berharap Monsera akan menepati janjinya.

Lelaki berbadan kurus itu lalu meninggalkan ibukota, berjalan kaki memasuki wilayah berhutan, mencari kelinci, umbi-umbian, dan buah-buahan, untuk bersantap malam, alu tidur di dahan sebuah pohon besar menanti datangnya pasgi.

Monsera terbangun oleh tetesan embun yang membasahi mukanya, dan setelah itu tak bisa tidur lagi sampai ufuk timur memerah. Ia berdebar-debar menunggu terbitnya Matahari, berharap-harap cemas membayangkan apa yang akan terjadi nanti.

“Apakah Tuhan mendengar doaku? Apakah Tuhan terusik oleh ancamanku?”

Sampai Matahari terbit dan Monsera meneruskan perjalanannya yang tanpa tujuan ini, tak ada kejadian istimewa terjadi. Monsera mulai kesal dan putus asa, tapi terus berjalan meninggalkan hutan dan memasuki padang rumput savana.

Seperti ingin bunuh diri, Monsera menantang teriknya Matahari tanpa berbekal setetes pun air dan menantang dinginnya malam tanpa berbekal selembar pun selimut. Pada hari ketujuh, Monsera tergeletak tanpa daya di atas permukaan rumput. Saat itu hujan turun deras. Kilat bekerjap-kerjap menerangi malam yang gelap. Guntur menggelegar. Seleret petir melesat menukik tajam, menyambar tubuh Monsera.

Paginya, seorang saudagar kuda bernama Sinaro menemukan tubuh Monsera yang hangus dan mengiranya sudah menjadi mayat. Sinaro menggali liang kubur, mendoakan Monsera dan menguburnya. Tapi begitu gumpalan tanah mengenai muka Monsera, mulutnya sedikit bergerak. Ternyata Monsera cuma mari suri. Sinaro kaget sekali dan membawa Monsera pulang ke rumahnya di negeri Salaban.

*

Setelah sebulan lebih dirawat keluarga Sinaro, luka bakar yang diderita Monsera berangsur sembuh. Kesadarannya berangsur pulih. Monsera mulai bisa bicara sepatah dua patah kata, tapi masih menderita amnesia. Masuk bulan ketiga barulah ingatannya kembali normal, dan bisa berbincang secara wajar dengan orang-orang di sekitarnya.

Suatu hari Monsera tertarik pada foto lama keluarga ayah Sinaro yang ditaruh di atas almari pakaian. Lama Monsera mengamati foto itu, lalu menunjuk seorang bocah yang ada di situ dan menanyakannya pada Sinaro. “Ini saudaramu?”

Sinaro agak kaget, lalu bercerita dengan perasaan sedih. “Ya, namanya Sridar. Ia hilang waktu ikut perang saudara sepuluh tahun yang lalu. Sampai sekarang tak pernah ada kepastian dia masih hidup atau sudah meninggal.”

“Dia masih hidup,” kata Monsera penuh kepastian. “Belum lama ini saya bertemu dia di Rodamar.”

Sinaro terperanjat. “Kamu yakin?”

“Saya yakin.”

“Tapi itu foto dua puluh lima tahun yang lalu, Monsera. Bagaimana kamu yakin yang kamu temui di Rodamar itu adalah Sridar adikku?”

“Sebaiknya kita sama-sama pergi ke Rodamar. Sridar tinggal di salah satu perumahan rakyat di pinggiran kota.”

Antara percaya dan tidak, Sinaro berangkat ke Rodamar bersama sanak saudara yang lain, mengikuti petunjuk Monsera. Tiga hari dua malam mereka berkuda menyeberangi padang pasir dan berhasil mencapai Rodamar dengan selamat. Dengan mudah Monsera menunjukkan jalan-jalan dalam kota yang harus dilalui, sampai akhirnya menemukan perumahan rakyat yang dimaksud. Dan berhasil menemukan Sridar!

Tak terkira betapa gembira Sinaro dan sanak saudara lainnya, bisa berjumpa lagi dengan Sridar yang sudah sepuluh tahun mereka anggap hilang ini. Dan tak terkira pula rasa terima kasih mereka pada Monsera yang telah membantu menemukan Sridar.

Belakangan Monsera merasa takut dan heran pada dirinya sendiri, setelah sadar bahwa sebelum ini ia sama sekali belum pernah pergi ke Rodamar. Jadi bagaimana ia bisa tahu seseorang bernama Sridar yang belum pernah dikenalnya tinggal di sebuah kota yang belum pernah didatanginya pula?

Sekembali ke rumah Sinaro, Monsera meminjam foto-foto yang lain, mengamati wajah-wajah dalam foto itu. Dalam waktu singkat ia ternyata bisa melihat perjalanan kehidupan orang yang diamatinya bagaikan sebuah film panjang. Melihat Sinaro melamar calon istrinya. Melihat istrinya melahirkan anak pertama. Dan melihat saat ini istrinya sedang berbelanja di pasar.

Tak ayal. kemampuan lebih yang dimiliki Monsera cepat diketahui orang-orang. Mereka berbondong-bondong mendatangi Monsera, menanyakan anak atau ayah atau suami atau sanak saudara mereka yang hilang pada waktu perang saudara. Banyak yang sedih setelah Monsera mengatakan yang mereka cari sudah meninggal. Namun banyak pula yang bergembira seperti Sinaro, berhasil bertemu kembali dengan yang selama ini menghilang entah ke mana. Hadiah berupa uang, emas, maupun barang-barang berharga lainnya, mengalir deras ke pundi-pundi Monsera. Sampai akhirnya pemerintah negeri Salaban mendengar pula kehebatan Monsera, lalu mengangkat Monsera sebagai pejabat khusus di kepolisian dengan gaji yang sangat tinggi, dan memberinya tugas melacak para penjahat yang melarikan diri.

Monsera pun menjadi orang yang kaya raya. Dan di tengah-tengah kekayaannya yang melimpah itu, ia merasa telah berhasil mengancam Tuhan lewat doanya.

*

Setelah cukup lama berbakti bagi rakyat dan pemerintahan Salaban, Monsera pulang ke negerinya. Yang pertama dilakukannya ialah menemui para mantan tetangga, dan membayar semua piutang mereka. Setelah itu Monsera meninggalkan Kota Ampari, pergi ke sebuah dusun termiskin di negeri Kalyana, menemui ibunya yang selama ini ditinggalkannya begitu saja.

Si ibu yang tua dan renta nyaris tak mengenali Monsera yang gemuk dan bersih.

“Tuhan akhirnya mengabulkan doa saya, Ibu! Bahkan lebih dari sekadar terbebas dari kemiskinan, saya sekarang jadi kaya raya!”

Monsera lalu membawa ibunya pindah ke kota untuk tinggal bersamanya di sebuah kastil termegah dan termahal di Ampari yang sudah dibelinya. Kekayaan ibunya yang dibawa dari dusun cuma sebuah tas kecil berisi selembar kain dan foto-foto lama. Monsera membakar kain tua itu dan meminta para pembantunya membelikan lusinan kain sutera sebagai pengganti. Monsera membeli pula bingkai-bingkai emas untuk memasang foto-foto keluarga yang dibawa ibunya.

Monsera tersenyum sendiri melihat sebuah foto ibunya waktu masih muda.

“Cantik sekali,” gumam Monsera. Lalu, di luar kehendaknya, kilasan-kilasan gambaran masa lalu mulai berkelebat secara bening dan meyakinkan.

Seorang wanita bernama Lastina berdandan di muka cermin. Malam hari dia berjalan di kaki lima mengenakan pakaian seronok, melambaikan tangan pada setiap kereta kuda yang lewat, sampai salah satu berhenti dan membawanya pergi... Sekilas nampak Lastina digauli seorang pria... Lastina hamil, gagal menggugurkan kandungan, merayu seorang preman jalanan untuk minta dinikahi... Lastina menikah dengan preman itu... Si preman kaget setelah tahu Lastina hamil... Si preman meninggalkan Lastina begitu saja... Lastina melahirkan anaknya... Dan diberi nama Monsera.

*

“Ini pasti salah! Tak mungkin ibuku seorang pelacur!” Monsera berteriak dalam hati sambil membuang foto-foto di tangannya. Perasaannya terguncang hebat, merasa begitu takut kalau pandangannya benar belaka. “Katakanlah padaku, ya, Tuhan, bahwa pandanganku kali ini keliru.”

Namun jawaban dari Tuhan dalam bentuk apa pun tak pernah diterimanya. Dan tetap saja setiap ia melihat foto ibunya, gambaran masa lalu yang kelam itu kembali bekerjap-kerjap. Bahkan kian lama kian benderang sekaligus menjijikkan.

Sampai akhirnya Monsera tak kuat bertahan dan memohon lagi kepada Tuhan. “Aku sungguh bersyukur Engkau telah memberiku rezeki yang melimpah, ya, Tuhan, tapi sekarang tolong bebaskan aku dari keahlianku melihat masa lalu, dan kembalikan aku sebagai manusia biasa.”

Setelah sehari, dua hari, seminggu, sebulan Monsera terus berdoa dan berdoa, kemampuan supranaturalnya tak kunjung menghilang. Ia mulai tak sabar dan terucaplah ancaman seperti yang dulu pernah dilakukannya. “Kalau Kau tak juga mengabulkan doaku, ya, Tuhan, aku akan segera meninggalkan-Mu.”

Kali ini ia merasa ancamannya pada Tuhan sama sekali tak mempan. Sedikitpun tidak ada perubahan terjadi dalam dirinya. Lama-lama Monsera berpikir, jangan-jangan dengan ancamannya yang pertama dulu Tuhan marah dan lebih dulu meninggalkannya. Kalau memang begitu, segala mukjizat yang diterimanya selama ini bisa jadi bukan anugerah dari Tuhan, melainkan pemberian dari setan.

Maka Monsera pun berkata, “Hai, setan! Jangan kau siksa aku dengan pemberianmu yang justru membuatku menderita. Kembalikanlah aku seperti manusia biasa! Kalau kau tidak mau melakukannya, aku akan kembali mengabdi pada Tuhan!”

Seketika hujan turun deras. Kilat berkerjap-kerjap menerangi malam yang gelap. Guntur menggelegar. Seleret petir melesat tajam, menyambar tubuh Monsera.

Paginya, orang-orang menemukan tubuh Monsera yang hangus dan mati suri. Mereka berebut membawa Monsera ke rumah sakit terbaik. Pemerintah pusat menginstruksikan Departemen Kesehatan agar mengerahkan semua dokter ahli di seluruh negeri untuk menyelamatkan aset negara berupa manusia bernama Monsera ini.

Tak lebih dari sebulan Monsera tersadar dari mati surinya. Yang pertama dia lihat adalah seorang perawat jaga bernama Datim yang berwajah sedih. Monsera mengajaknya berkenalan dan bertanya kenapa Datim nampak sangat bersedih.

“Suami saya memohon izin pada saya untuk menikah lagi karena setelah delapan tahun menikah saya tak bisa memberinya anak,” jawab Datim.

Monsera terdiam menatap Datim. Tiba-tiba, di luar kehendaknya, kilasan-kilasan adegan berkelebatan seperti biasa dia alami. Kali ini ia melihat Datim muntah-muntah di kamar mandi, lalu bicara dengan dokter yang mengucap selamat atas kehamilannya.

“Kenapa Tuan Monsera menatap saya seperti itu?”

“Aku lihat engkau hamil, Datim.”

“Ah. Tuan pandai menyenang-nyenangkan perasaan wanita. Kalau dalam benak Tuan terbayang di masa lalu saya hamil, tentulah sekarang saya sudah melahirkan atau malah anak saya sudah besar.”

Sekonyong-konyong Monsera menjadi cemas. “Jangan-jangan...”

“Jangan-jangan apa, Tuan Monsera?”

“Jangan-jangan aku melihat sesuatu yang belum terjadi.”

Ternyata benar! Seminggu setelah itu Datim muntah-muntah, pergi ke dokter dan dinyatakan hamil. Datim sangat gembira dan menceritakannya pada semua orang. Dalam tempo singkat seluruh warga negeri Kalyana tahu, bahwa sekarang Monsera bukan cuma bisa melihat kejadian yang sudah terjadi di masa lalu, tetapi juga kejadian yang belum terjadi di masa yang akan datang, hanya dengan menatap wajah orang yang akan mengalaminya. Maka berbondong-bondonglah orang mendatangi Monsera, menanyakan masa depan pekerjaan mereka, jabatan, jodoh, vonis hakim, nomor undian, dan segala sesuatu yang diharapkan atau tidak diharapkan oleh yang bersangkutan. Dan belakangan terbukti, bahwa yang dilihat secara maya oleh Monsera semuanya benar-benar terjadi!

Monsera kewalahan menampung imbalan berupa uang berjuta-juta, emas berkilo-kilo maupun berlian berkarat-karat, sampai ia sendiri tak sempat menghitung, apalagi menikmatinya. Sampai suatu saat ia merasa sangat lelah dan menyempatkan diri beristirahat sesaat, membasih muka di wastafel, dan menatap wajahnya di cermin. Monsera pun tertegun. Tak lama kemudian muncul kilasan-kilasan kejadian sebagaimana selalu terjadi setiap ia menatap wajah seseorang...

Kali ini yang nampak ialah seorang lelaki kaya raya berwajah letih yang merasa bosan dengan kekayaannya, menyamar sebagai rakyat bersahaja dan lari dari rumahnya sendiri di malam yang sunyi. Sekelompok penjahat mencegatnya, menodongkan senjata mereka ke tubuh laki-laki ini dan menghardiknya keras.

“Serahkan semua uangmu!”

“Saya tidak bawa uang sesen pun. Semua saya tinggal di rumah. Ambillah sesuka kalian kalau kalian mau.”

“Jangan main-main! Serahkan uangmu sekarang juga!”

Laki-laki ini mengulangi jawaban yang sama, hingga para penodongnya marah dan menghunjamkan senjata mereka berkali-kali ke tubuhnya.

“Tidaaaak!” Monsera berteriak. “Aku tidak mau mati dengan cara begituuu!!!”

Tapi kali ini Monsera tak tahu lagi kepada siapa ia harus berdoa.*

--

Jakarta, 29 Maret 2001

---

Jujur Prananto. Jejak Tanah – Cerpen Pilihan KOMPAS 2002. 2002. hlm. 48-58



##########################################################################

Apakah film-nya bakal sekeren cerpennya????





Blog EntryJul 27, '08 10:57 AM
for everyone
Siapa ryan, siapa dia?

Aku tak mengenalnya

Hanya kulihat wajahnya memonopoli layar kaca

Hari ini, tiga koran kubaca, semua masih membicarakannya

Terasa makin karib di telinga dan sosoknya akrab di mata

 

Tapi siapa tahu suatu malam kau pernah berpapasan dengannya

Di salah satu ruas jalan di margonda depan gramedia

 

Atau mungkin kau pernah berada satu antrean dengannya

Di depan kasir giant margo city, berdiri tepat di belakangnya

 

Atau mungkin kau tak sengaja bertabrakan dengannya

Di sesaknya terminal dan buru-buru kau minta maaf padanya

 

Atau kau pernah berada satu ruang di pizza hut pesona kayangan

Atau kursimu lima menit sebelumnya adalah tempatnya berkencan

 

Atau kau duduk sebelahan persis di detos 21 margonda

Saat menonton ayat-ayat cinta atau spiderman tiga

 

Saat itu, ia hanya orang biasa:

Menunggu kereta di stasiun pondok cina

Naik 04 lewat rumah sakit bunda atau hermina

Berjanji dengan seseorang di halte walikota

Jejak sepatunya pernah menempel di sepatu kita

Dan sebaliknya.

Karena kita berada di tanah yang sama

Berbagi oksigen sekaligus monoksida

Margonda raya tercinta

 

 
Depok, 27 Juli 2008

 

 

 

 

 

 

 


Blog EntryJul 27, '08 10:51 AM
for everyone
Kita sedang krisis air, bukan?

Gw sedang memikirkan, jika tiap wudlu kita butuh antara 2-3 liter air, maka dikalikan lima kali sholat, tiap muslim menghabiskan antara 10-15 liter air per hari, kali umur kita sampai mati, kali jumlah penduduk muslim akil balig yang sholat minimal lima kali sehari...wow...ada alternatif nggak sih?.....*mmmm...satu-satunya alternatif di otak gw sih nggak usah sholat, ha..ha..ha..ooops! Maap ya Allah..ampun...ampun!*

Gw pernah ikut sebuah upacara purnama di pura. Pertama kali masuk, kepala kita sudah dipercikin tirta (air suci), setelah berdoa pendeta berkeliling membagikan tirta lagi, diminum tiga kali tegukan dan sekali diusap di kepala. Pulang sembahyang pun masih dibekali kurang lebih seliter tirta. Kita tahu kan ada ratusan upacara dalam setahun dan ribuan pura di Bali. Semua nggak mungkin melepaskan tirta....wow...mungkin nggak sih pake air virtual?

Di Gaza, Israel dan Palestina berebut sumber air. Politis. Perang teknologi pengolahan air. Dan Palestina hanya mendapat sepercik air atas nama kemanusiaan. Generasi muda Palestina semua terancam batu ginjal karena dehidrasi dan berbagai penyakit karena kandungan asam yang terlampau tinggi dalam air minum mereka.

Di Prancis, tiap orang di Prancis menghabiskan 4000 liter air per hari, untuk pengolahan makanan mereka yang boros air, katanya....masuk akal sih, mengingat gastronomi Prancis yang sophisticated.

Waktu gw kos di Harajuku Margonda, tante kos gw pernah mengirimkan bergalon-galon Aqua (bukan air isi ulang) untuk kita mandi ketika air kran nggak ngalir berhari-hari, dan gw ngerasa lebih kaya daripada Paris Hilton. Sekaligus merasa bersalah.

Beberapa kali penampilan MBUI, kita pernah wudlu pake air galon. Terpaksa banget. Tapi sedih gw ngeliat air yang biasanya buat minum (yang gw juga tau uang kas MBUI nggak banyak buat beli kebutuhan pasukan), mengalir berceceran di lantai buat wudlu kita semua. Sumpah sedih gw. Sholat gw berasa ga enak, pake air minum buat wudlu sementara mungkin beberapa kilometer dari tempat gw berdiri takbiratul ikram memuji kebesaran The Almighty One, ada keluarga yang bahkan nggak punya air untuk minum.

Air memang krusial. Dari zaman dulu kita udah sering mendengar cerita perang suku- di Arab dan Afrika memperebutkan oase. Dan kabilah-kabilah yang berseteru itu terus berlanjut: demi air.

Mungkin sekarang kita nggak perlu lagi mengguyur teman yang ulang tahun dengan berliter-liter air, apalagi nimpukin pake telor. Itu konyol yang nggak cerdas plus sia-sia...Kalo mau heboh, ceburin aja di empang atau danau UI, kan sama basah n baunya:D, jangan lupa ditinggalin sampe megap-megap, hebohnya bener2 bisa sampe ke polisi deh!

Mungkin yang kamar mandinya pake bak harus diganti dengan shower karena air yang kita gunakan untuk mandi bisa jauh lebih hemat.

Dan jangan lupa bawa botol minum sendiri biar nggak perlu beli air minum di jalan, jadi nggak banyak juga botol plastik terbuang, dan pasti kita lebih hemat uang.

 

Depok, 27 Juli 2008


Blog EntryJul 25, '08 8:01 AM
for everyone

Kalau saja malam itu tak mati lampu yang hanya selalu berakhir dengan gerutu, maka gw akan selalu merasa bahwa abang gw akan selalu gw anggap orang asing yang kebetulan serumah sama gw.

 

Hubungan gw dengan abang gw baik-baik saja sebenarnya. Waktu kecil dia ngajarin gw main kartu, monopoli, and as brothers did, nakut-nakutin gw. Tapi setelah kita agak gede, gw smp dan dia masuk sma, jarak akademik semakin jauh...gw hampir-hampir nggak pernah ngobrol sama dia. Gw nganggep dia nggak guna karena nggak bisa gw andalkan buat ngajarin gw aljabar atau bhs inggris. Gw nganggep dia nggak guna karena nggak ada apa pun yang bisa gw tanyakan ke dia. Jadi gw nggak punya alasan buat ngomong ke dia kecuali ngasih tau dia ada telpon buat dia atau ada temannya datang untuk dia. Dan sebaliknya.

 

Pun ketika waktu gw smp kelas 3 dia pacaran sama teman sekelas gw. Kadang dia nitip surat atau apalah barang2 kecil buat yohana, temen sekelas gw yang sekaligus pacarnya. Gw juga nggak pernah ngomong atau cerita apa pun tentang yohana. Yang penting semua titipannya gw sampein ke yohana. Pun dengan yohana gw ga pernah ngobrolin abang gw. Gw ga peduli dengan hubungan mereka. Yohana bukan peer group gw. Abang gw bukan orang yang penting buat gw kecuali dia kecelakaan atau sakit parah.

 

Ketika gw sma dan dia udah kuliah di jogja, dia pacaran sama adek kelas gw sma, gw tetep nggak peduli. Peran gw buat dia adalah tukang transfer duit bulanan dia di bni. Titik. Gw cuma tau dia anak teknik mesin yang kalau dia nelpon ke rumah berarti dia minta duit!  *I did it then*

 

Abang gw cuma kebetulan seatap sama gw, semeja makan sama gw, berbagi sabun, shampo, dan odol sama gw, dan kita pernah minta uang saku dari orang yang sama. Kalau pun dia satu smp atau sma sama gw, tetep nggak ngaruh. Tapi untungnya cuma pas sd doang gw satu sekolahan sama dia.

 

Ketika gw udah kuliah, gw benci banget kalo pas lebaran dia nanya: “Kapan lulus?” Cuih.....gw cuma ngelirik dia tajam nggak jawab. Lo nggak berhak nanya2in kehidupan akademik gw karena gw juga nggak pernah ngurusin kuliah lo!

 

Ketika gw cuma pulang setaon sekali pas lebaran, gw benci banget kalo dia nanya: “Apa kabarnya Anto?” Cuih...gw cuma ngelirik dia tajam nggak jawab. Lo nggak berhak nanya2in kehidupan cinta gw karena gw juga nggak pernah ngurusin kehidupan pribadi lo!

 

Ketika kemarin gw tinggal di rumah selama dua bulan setelah tujuh tahun nggak pulang, gw benci banget kalo dia nyuruh gw matiin tv pas adzan maghrib. Hallo....perasaan gw lebih rajin sholat deh daripada lo...perasaan gw lebih rajin ngapalin surat2 pendek-yang-lama2-panjang deh daripada lo...perasaan gw lebih rajin belajar hadis deh daripada lo...perasaan gw lebih sering tadarus deh daripada lo...Lo tuh paling nyusahin bokap kalo urusan ngaji! Cuiih....lo nggak berhak ngurusin kehidupan religius gw karena gw juga nggak pernah ngurusin hubungan lo sama Tuhan lo kaya` gimana! It`s completely my own business with Him, Bro!

 

Tapi ketika tiba-tiba malam itu di rumah gw mati lampu, gw nggak tau mau ngapain selain tidur2an di sofa ruang tengah, trus dia gabung. Gw sih lagi maenin hp pas dia nanya: “Kemaren seminggu lebih di jogja maen kemana aja? Parangtritis?”

 

“Nggak. Nggak kemana-mana. Cuma nyobain tempat2 makan.”

 

“Tinggal di tempat siapa? Pacar?”

 

“Kalo pun aku sebut namanya juga nggak kenal.”

 

“Pacar?”

 

“Nggak punya pacar. Ngapain sih nanya-nanya?”

 

“Nggak sama Anto lagi?”

 

“Basi!”

 

“Kalo Anto nikah kamu bisa dateng nggak?”

 

What the ffffff..............Penting banget sih nanya kayak gitu. Who the hell is he?

 

“Bisa. Gampang.”

 

“Apa kabar dia?”

 

“Nggak tau. Nih kalo mau aku kasih nomernya.”

 

“Kok nggak tau? Nggak pernah kontak2an lagi?”

 

“Nggak punya urusan.”

 

..........................................dan abis itu tiba-tiba dia cerita tentang temen2 gw yang pernah pacaran sama dia...tentang hubungannya dengan kakaknya Anto, yang menurut dia daleeeem...he..he..he...dan nggak tau kenapa gw juga bisa lancar cerita tentang cowok2 yang pernah jadi bagian hidup gw.....cita-cita gw...marching band gw...kegagalan fullbright gw kemaren......keinginan gw sekolah lagi walo bukan S2...alasan gw ga mau daftar Deplu.....alasan gw meninggalkan Bali dan memutuskan balik ke Depok untuk suatu hari pindah ke Jogja....keinginan gw sekolah musik...gw nggak nganggep dia sebagai orang yang lebih tua sehingga layak dijadikan tempat meminta pendapat...tapi gw lebih ngeliat dia sebagai teman berbagi karena gw dan dia sama-sama udah gede.....gw dan dia bisa menceritakan kenakalan2 masing2 tanpa takut salah satu dari kita ngadu ke orang tua, seperti ketika gw smp mergokin dia ngerokok n dia panik bgt.............ato ketika dia lagi dengerin gw ngobrol di telepon sm temen2 gw n omongannya agak2.....he..he...

 

Kalau saja malam itu nggak mati lampu, maka sampai hari ini gw akan tetep nganggap dia sebagai orang asing yang kebetulan serumah sama gw.

Dan gw merasa sedikit kehilangan momen itu ketika lampu kembali menyala.

 

 

Depok, 23 Juli 2008


Blog EntryJul 8, '08 12:38 AM
for everyone
I have such a perfect holiday in Yogyakarta and you know what, the last night of my (culinary) holiday was having a great culinary experience @ iga bakar jalan sagan. That was the best part.

 

Hello, vrienden…

Ceritanya, gw emang lagi bosen banget di rumah bonyok gw di Banyuwangi. Jadi, gw memutuskan untuk liburan paling enggak selama seminggu ke Jogja. So, gw kontak Mas Fanny yang (untungnya) blom kelar menuntut ilmu di sana (bo`, skripsinya setara masa studi S1 reguler, he..he..oops!). Intinya Mas Fanny harus menyediakan akomodasi, transportasi, dan uang saku, ha..ha..ha..pokoknya dia tau lah kalo gw ke sana itu artinya dia harus nguras ATM dan credit card karena gw (dan dia juga, sih) bakal nyobain tempat-tempat makan yang seru di Jogja: dari angkringan yang harganya bikin kita berdua mendadak kalap dan rakus (in our blood), sampe makan di bistro yang ketika waitress-nya datang dengan langkah anggun dan senyum menawan ala Miss July 1985 (yang nggak baca Playboy sejak balita pasti nggak tahu:p), membawa baki kecil berisi selembar tagihan yang membuat kita berdua keringetan tiba-tiba dan siap-siap mimisan, ha..ha..ha.. *lebay, itu sebenernya karena kancing baju waitress-nya terbuka plus mendadak ada blower kenceng membuat rambutnya melambai-lambai liar!*

 

Well, selama seminggu kerjaan kita berdua sebenernya berantem mulu sih karena banyak banget tempat makan di Jogja yang harus ditentukan untuk dicicipi, sekedar mendapat sesapan dan slurupan:D Tapi nggak semua tempat bisa didatengin karena harus sesuai dengan selera lidah dan (terutama) kantong. Secara, gw dan Mas Fanny adalah freelance yang full-time pemalas, atau kalau mau istilah agak keren dan terpelajar ala kaum intelektual: a fulltime-procrastinator-freelance.

Dan selama seminggu pastilah banyak menu-menu yang mendapat pujian namun juga makian dan celaan di antara desah-desah lidah gw yang gampang banget kepedesan, terutama kalo mas-mas jogjanya sangat menggiurkan, menumbangkan benteng iman dan kekudusan hati….*hayyah*

Pas malam terakhir gw di Jogja, temen gw dari Denpasar telepon. Dia bilang dia lagi di Jogja dan lagi makan di iga bakar jalan sagan. So, gw dan Mas Fanny yang lagi bingung memutuskan mau makan malam di mana (as always) meluncur ke iga bakar jalan sagan. Di sana, temen gw si Cavin dan Amanda (ceweknya Cavin yang kerja di Jogja) udah nunggu. Gw dan Cavin yang sudah dua bulan nggak ketemu jadi heboh dan rame sendiri, sementara Amanda dan Mas Fanny, yang baru kenal di situ, cuma bengong dikacangin, he..he..he..(gw sempet nyaranin Mas Fanny dan Amanda cari tempat duduk sendiri biar mereka bisa bengong lebih khusyuk). Sambil terus ngobrol gw milih-milih menu dan karena gw ga` bisa mikir mau makan apa (saking serunya ngobrol sama Cavin--gw dan Cavin pernah sama-sama tinggal di Denpasar. Pas kuliah pun kita sekampus, jadi kita berdua kayak nostalgia dan senengnya gw mendapat asupan gosip Denpasar terbaru), Amanda nyaranin gw pesen iga bbq double dan gw sih percaya aja karena Amanda kayaknya sering makan di sini secara dia tinggal deket2 jalan sagan. Mas Fanny, yang doyan banget analisis sambel dan makanan pedes pesen iga pedes double. Untuk minumnya sih gw standar aja, milkshake vanilla (gw suka banget manis dan harum vanilla), sementara Mas Fanny yang emang lebih tua dari gw pesen minuman yang sesuai umur dan karakter, yaitu traditional choco…he..he…*ga logis*

Sambil nunggu pesenan, gw dan Cavin nyambungin obrolan, tebak-tebakan juga. Amanda cuma mesem-mesem karena pacarnya disabotase (padahal Amanda juga udah lama nggak ketemu Cavin. Maaf ya Amanda, tapi sumpah lo cantik banget malam itu, dengan leher lo yang jenjang dan rambut mayang bergelombang…ha..ha..ha…gombal!), sedangkan Mas Fanny adem-ayem senyum-senyum sendiri ngelanjutin ngelamun jorok yang terbagi dalam beberapa sequel ha..ha..ha..dan...tarrraaat....tarararaaat...*diiringi fanfare mickey mouse marching* akhirnya pesenan gw dan Mas Fanny datang. Cavin dan Amanda yang udah selesai makan kayaknya jadi laper lagi ngeliat makanan dateng.

 

Well, ini dia di depan mata gw tersaji sepiring iga bbq double disiram saus-yang –tak-boleh-disebut-namanya, saus warna coklat yang menggugah nafsu primordial gw sebagai omnivora yang sesungguhnya, dan segelas milkshake vanilla favorit gw. Mas Fanny juga udah mulai konsentrasi motong-motong iga bakar pedesnya dan mulai makan. Gw mulai cicip potongan pertama dan hmmm…..gw ngelirik Mas Fanny dan dari ekpresinya yang merem melek banyakan merem daripada melek, gw tau sebenernya dia mau bilang “I am coming, I am coming….” as bokep athletes do in movies, ho..ho..ho…

And my bbq double tastes more than ….mmmmpph….yummy…. it was mmm….tasty, appetizing, scrumptious, luscious, delectable, mouthwatering….mmmm.... with delicate sauce….addictive, ecstatic taste (something must be added on it, compound of C11H15NO2….unquestionable!)  *thanks to Encarta thesaurus for having these words, thanks to Cavin yang udah bawain Encarta jauh-jauh dari Denpasar*

Dan kalau gw menggambarkannya dalam adegan film slow motion:

 

EXT. PAYUNG IGA BAKAR #13.   NIGHT

Angin berhembus pelan, bulan setengah purnama bagai mengambang di udara di antara pendar bintang-bintang. Layar HBO di tengah ruangan tiba-tiba buram dan bisu. Terdengar suara pengunjung bersenda gurau. Suara Cavin terdengar sayup-sayup hampir tak terdengar meskipun bibirnya terlihat terus nyerocos, belum sadar bahwa 15/16 otak Uswah sudah beralih pada sepotong daging dunia (kalau di alkitab pasti dianggap sebagai kejatuhan iman manusia, he..he..), bernama iga bakar yang membuat Uswah dan Fanny lupa bahwa di hadapan mereka tengah menanti dua teman bicara bernama Cavin dan Amanda

 
 

CAVIN

(Bergumam sambil tersenyum pada Amanda)

Aku kayaknya udah dicuekin, nih…

 

EXT. PAYUNG IGA BAKAR #13.   NIGHT

Malam semakin larut. Cavin dan Amanda sudah meninggalkan payung iga bakar jalan sagan. Uswah dan Fanny tak banyak bicara seperti mengalami kehilangan fungsi bahasa, tapi terlihat keduanya tersenyum puas hingga piring mereka tandas. Mereka mengakhiri makan malam mereka dengan sesapan demi sesapan milkshake vanilla dan traditional choco, penyempurna makan malam terakhir Uswah di Jogja.

 

USWAH

Mas Fanny, kalau aku ke Jogja lagi, kita nggak perlu berantem `kan kalau mau makan di sini?

 

FANNY

(manggut-manggut sambil tersenyum khas sok orang dewasa)

Nggih! Nggih!

 

 

 

 

    

 

 


Blog EntryMar 10, '08 10:28 AM
for everyone

 

“Tolong ini buat Pak Butet, Pak,” kata seorang ibu muda berpakaian lusuh sambil menyerahkan sebuah bingkisan plastik kepada petugas jaga di Polsek Denpasar Selatan. Petugas memeriksa bingkisan itu: sekerat roti, sebungkus rokok, dan sebotol air mineral.

 

Saat itu sudah jam 23.00. Ogoh-ogoh sudah selesai diarak dan orang bersiap-siap amati geni. Orang sudah bersiap-siap untuk segala sunyi di hari raya Nyepi. Tapi tampaknya ibu muda itu tak ingin Pak Butet, mungkin suaminya, semakin berlipat-lipat dilanda kesepian. Maka ia mengirim sedikit makanan dan minuman. Maka ia datang meski hampir tengah malam. Setidaknya agar Pak Butet tahu bahwa sesaat sebelum Nyepi ada seseorang yang datang untuknya. Setidaknya agar Pak Butet merasakan sedikit kemewahan rasa Sari Roti setelah bosan dengan makanan sel yang itu-itu saja.

 

Pukul 04.00 pagi, beberapa tahanan dari 14 orang penghuni sel tersebut masih riuh bercanda. Sari Roti tinggal setengah, bungkus-bungkus rokok hampir kosong. Asap mengepul hingga langit-langit meninggalkan noda coklat seperti lukisan abstrak di eternit. Seorang petugas menemani obrolan panjang itu, sebuah obrolan akrab dan ringan mengalir. Seperti obrolan tetangga tentang cuaca atau buthakala pada pawai yang baru ditonton bersama. Bukan obrolan seorang polisi dan tersangka kasus narkoba. Mungkin mereka memang bertetangga.

 

Hari berganti meski tak penting bagi para penghuni sel karena sepi makin menjadi. Setelah pukul 7 malam di hari Jumat itu, amati geni baru terasa. Gelap gulita di mana-mana, di kantor polisi sekalipun. Sebuah lilin dinyalakan di dalam sel, untuk kepentingan penjagaan dan sedikit hadiah kenyamanan. Cahaya berpendar tanpa membias keluar ruangan. Senter sesekali disorot untuk mengingatkan tahanan yang terlalu gaduh. Televisi dinyalakan hampir tanpa suara, cahaya layarnya lebih dibutuhkan untuk keperluan para petugas jaga yang semuanya muslim saat itu. Bagaimana pun, Nyepi masih terjaga.

 

Di luar, sesekali terdengar suara anjing melolong. Melolong pada bintang-bintang yang luar biasa banyaknya malam itu, terserak berlebihan dan benderangnya cukup mengurangi ciutnya hati saat gelap dan sunyi. Dari angkasa, mungkin jarak Pulau Jawa dan Nusa Tenggara semakin lebar karena ada pulau yang tidak diterangi lampu. Pulau Bali tenggelam di selatnya sendiri sehari itu. Padahal jauh di bawah sana, di satu titik di dekat perempatan Pantai Sanur, dua orang polisi sibuk menguliti kacang, mengusir bosan dan penat seharian bergelap-gelap. Radio panggil sepi seolah-olah hilang frekuensi, telepon tak berdering sama sekali.

“Berarti aman. Kalau ada kejadian kecil biar pecalang yang ngurus,” kata Atnari, polisi Buser yang berjaga sejak Jumat pukul 24.00 hingga Sabtu pagi pukul 08.00. Matanya berpindah-pindah dari sel ke kacang kulit di tangannya. Terus begitu hingga pukul 5 pagi ketika deru sepeda motor memecah sunyi hari itu. Nyepi sudah selesai. Matahari pertama tahun 1930 Caka bersinar menemani orang-orang berangkat ke pasar.

 

PS. u know what? hari pertama tahun baru caka, jam 5 pagi gw keluar iseng liat langit...dan langitnya emang indah banget...bener2 kayak Tuhan lagi foya2 abis gajian, buang-buang marjan....cantik bangit langit sanur ketika subuh itu:)


Blog EntryMar 1, '08 7:04 AM
for everyone

i am not good at writing straight news: because i can`t see the conflict inside. i am too naive, positive, and i am not the sceptic one, the most valuable thing to be a journalist. my editor cut my reports and he said he will send me to criminal desk so i will have a good nose like a dog.

so, here i will share u my soft-news, the only one i like, my pleasure since my editor yelled at me this morning: kamu nulis berita apa notulen??? *damnl!*

Dari kemarin, saya memburu janda-janda korban Bom Bali I. Moment-nya adalah sidang PK Amrozi cs di Denpasar minggu kemarin.

Yang pertama saya temukan adalah Ni Wayan Rasni: secara kontak maupun secara jalan. Ingat, saya baru 3 hari terjun di lapangan, masih menjadikan peta Denpasar sebagai kitab pedoman, juru selamat di jalan.

Rasni adalah salah satu janda yang suaminya terbunuh pada peristiwa Bom Bali I, 12 Oktober 2002. Suaminya adalah Made Sujana, satpam Sari Club, yang baru 2 tahun bekerja di situ.

Setelah kematian suaminya, otomatis Rasni yang menanggung hidup ketiga anak-anaknya. Anak tertuanya sudah menginjak kelas 2 SMU, sedangkan anak kedua masih duduk di kelas 6 SD dan si bungsu kelas 3 SD. Mereka adalah Wayan Limna, Made Bisma, dan Nyoman Purnama.

Sebagai ibu rumah tangga, Rasni tidak memiliki ketrampilan khusus. Sehari-hari ia berkeliling menjajakan pakaian, yang modalnya ia dapat dari sebuah yayasan. Namun, toh tetap saja penghasilan Rasni hanya cukup untuk memenuhi kebutuhan dasar keluarga itu. Untung biaya pendidikan ketiga anaknya ditanggung KIDS Foundation hingga SMU.

Saat sedang berkunjung ke rumah keluarga Rasni di sebelah Pasar Renon, Tukad Yeh Aya, saya sedang melihatnya mengumpulkan botol-botol bekas dan kardus bekas. Seorang tukang barang rongsokan sedang menimbang-nimbang harganya. Terjadi debat seru dalam tawar-menawar itu. Kardus setengah basah dan botol tidak berleher. Tidak laku di pasaran, kata si abang. Tidak terjadi kesepakatan. Rasni tak mau kalah, meski harus kehilangan 20.000 rupiah, tidak dilepasnya barang-barang rongsokan itu.

"Saya maunya 20.000. Bukan setengahnya. Nanti kardusnya bisa dijemur, biar saya tawarkan ke tukang yang lain," katanya optimis.

Saya duduk di teras rumahnya saat itu, hanya bisa tersenyum melihat debat seru dalam bahasa Bali yang tidak saya mengerti. Di sebelah saya si bungsu Purnama, hampir merengek karena ibunya tak dapat uang tambahan hari itu.

Betapa berharganya botol kosong dan kardus bekas itu untuk keluarga ini.

Mungkin Amrozi punya juga kardus bekas dan botol kosong? Siapa tahu Wayan Rasni bisa dapat uang lebih banyak hari ini.

Denpasar, 3 Maret 2008


Blog EntryFeb 29, '08 10:56 AM
for everyone

James Nachtwey, seorang wartawan foto terkenal, memulai karirnya sebagai jurnalis di sebuah koran lokal di sebuah kota kecil New Mexico, selama 4 tahun.

 

Uswatul Chabibah, (yang akan menjadi wartawan besar), memulai karirnya sebagai jurnalis di sebuah koran lokal NusaBali di kota kecil Denpasar, dengan kontrak 3 tahun.

 

Dan di sinilah saya sekarang, Denpasar, sebuah kota internasional, namun luas wilayahnya lebih kecil dari Depok, kota yang saya tempati hampir 7 tahun terakhir ini.

Dan inilah awal saya menjadi jurnalis yang sesungguhnya, setelah selama ini hanya menjadi reporter kampus, atau ujicoba membuat majalah-majalah  komunitas bersama teman saya, Irvin alias Me`eng.

 

Hari pertama terjun di lapangan (27 Februari 2008)

Hari pertama saya dibebaskan kemana saja. Intinya hari itu saya dilepas tanpa bekal proyeksi, tanpa penugasan, malah saya pikir saya lagi libur training. Tapi untungnya saya berkenalan dengan reporter Sindo yang mengajak saya sarapan di sebuah warung Jawa di depan kampus Universitas Warmadewa. Saya berkenalan juga dengan wartawan Sindo yang lain. Setelah mereka tahu saya alumni FIB-UI, saya ditawari mengisi desk bahasa Inggris yang sedang dipersiapkan Sindo. Tertarik. Sangat tertarik. Menulis dan mengolah berita dalam bahasa Inggris. Siapa yang tidak tertantang. Tapi saya tidak bisa. Hari pertama harus nir-dosa. Entah kalau hari berikutnya, he..he..he…

 

Setelah sarapan (dengan terus memandang iri mahasiswa-mahasiswa Warmadewa yang berangkat kuliah), saya ngintil ke PD Parkir. Hari ini Walikota Denpasar, AA Puspayoga, akan menyerahkan beasiswa kepada anak para juru parkir yang berprestasi. Saya berpikir, kalau di Kompas, ini cuma akan masuk halaman Seremoni. Setelah basa-basi dengan para pejabat, saya duduk dengan para wartawan. Wow! Satu-satunya wartawan perempuan, tanpa bekal, kecuali selembar peta Denpasar, hasil pemberian seorang wartawan Sindo yang kasihan kepada perempuan yang berbakat kesasar.

 

Acaranya? Basi!

Setelah sambutan, serah terima beasiswa, dan haha hihi sana sini, para wartawan berhamburan keluar mencegat Pak Walikota dan Direktur PD Pasar. Menanyakan tentang beasiswa-kah? Bukan. Mereka menanyakan komentar kedua tokoh daerah ini tentang Pilkada.

Saya? Saya belum mengerti benar dinamika politik lokal. Memang Denpasar tengah bersiap-siap untuk Pilkada. Saya bergabung di kerumunan itu mendengarkan dan belajar melihat bagaimana para mas-mas wartawan mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang lebih terdengar seperti seloroh, untuk memancing komentar-komentar yang layak dijadikan berita. Menyenangkan.

Saya sempat mencuri waktu sebentar, mewawancarai salah seorang penerima mahasiswa. Satu-satunya yang berstatus mahasiswa di antara para penerima beasiswa. Mahasiswa ini anak juru parkir. Sampai situ saja sudah cukup membuat orang kagum. Mahasiswa ini pernah juara Olimpiade Matematika, peringkat kedua. Luar biasa. Apalagi yang bisa saya katakan, kecuali memberi ucapan selamat di akhir wawancara, kepada mahasiswa itu, terlebih lagi kepada ayahnya, sang juru parkir dengan seragam biru pudar, yang berhasil mendidik anaknya dengan semangat luar biasa. Mahasiswa itu namanya Putu Ferry Andika, semester 2 Jurusan Matematika  IKIP PGRI Denpasar.

 

Setelah itu saya diajak ke Dinas Lingkungan Hidup. Inilah pertama kalinya saya masuk ke instansi resmi. Setelah selama ini saya lebih sering membantu program-program lingkungan hidup dari JIP (Joint Initiative Program-dikelola oleh mahasiswa-mahasiswa penerima beasiswa Sasakawa). Di sana saya bertemu dengan Kepala Dinas Lingkungan Hidup Denpasar. Seperti yang sudah saya duga sebelumnya: pernyataan-pernyataan diplomatis, birokratif, dan normatif. Untungnya para mas-mas wartawan itu mahir mengorek isi otak Pak Kadis. Paling tidak, keesokan harinya di koran muncul polemik antara Kadis dan DPRD mengenai dana monitoring terumbu karang dan hutan mangrove di Denpasar.

 

Cukup itu saja laporan liputan saya hari ini. Sorenya, saya berkeliling sendiri dengan bekal peta di tangan. Habis bensin setengah tangki. Pantat pegal. Hitam punggung tangan. Belang membekas di garis jilbab. Saya berhasil menemukan jalan pulang setelah 3 jam berputar-putar. Jam 7 malam, langit masih menyisakan terang, matahari hampir tenggelam. Di Bali, ini waktunya sholat Maghrib. Kata teman saya sih begitu, soalnya saya jarang mendengar adzan di sini. Bismillah saja, kata ibu saya ketika saya bercerita susahnya memastikan waktu sholat.

 

Iya, Bismillah saja. Itu juga yang saya ucapkan ketika ditanya kesiapan saya pindah ke Denpasar.


Blog EntryAug 15, '05 1:26 PM
for everyone
saya adalah orang yang percaya bahwa segala sesuatu terjadi untuk atau karena alasan tertentu.dan kalaupun kita bilang kita nggak tahu mengapa kita melakukan sesuatu, bukan berarti sesuatu itu terjadi begitu saja, Tuhan pasti punya alasan mengapa hal itu terjadi atau mengapa kita melakukan itu: kita hanya belum menyadarinya.

meski kadang, saya salah menyimpulkan sesuatu....saya kadang salah menyatakan sesuatu hal sebagai alasan....saya menyadarinya ketika begitu salah mengira sesuatu sebagai alasan...tapi akhirnya saya berpikir, mungkin kejadian itu justru adalah alasan yang dipilihkan Tuhan untuk saya, hingga hal-hal terjadi seperti sekarang ini, hingga perjalanan hidup saya sampai hari ini....:)

dan saya percaya, alasan-alasan dalam hidup (atau mungkin kejadian-kejadian dalam hidup) mempunyai efek domino, tiap peristiwa adalah rantai dari kejadian berikutnya.

waktu lulus sd, orangtua saya ingin saya masuk smp 1, tapi saya lebih suka masuk smp 3 yang dekat rumah. dan di smp 3 itulah banyak hal-hal terjadi, menemani saya tumbuh sebagai remaja tanggung (pasti banyak hal juga terjadi bila saya masuk smp 1 atau smp lain, tapi tentu dengan orang2 yang berbeda, tapi secara tidak sadar, saya telah memilih teman-teman saya sendiri). waktu smp saya mulai mengenal jatuh cinta, saya mulai nge-peer, saya mulai norak berpikir bahwa musuh teman saya adalah musuh saya juga, saya mulai mengenal nongkrong bersama cowok2 yang udah sma, saya mulai belajar nyontek, saya berani berbohong ke orang tua bahwa saya ada piket pagi2 banget di sekolah padahal saya ada janji dengan cowok di sekolah, saya belajar teater, saya belajar nulis, saya belajar mengerti bahwa orang dewasa pacarannya suka aneh, saya belajar memaklumi bahwa orang dewasa suka cewek seksi, saya belajar memakai pembalut pertama kali dan malu2 mengaku pada teman sebangku, saya belajar memakai bh pertama kali dan rasanya saya jadi dewasa sekali walaupun risih banget dipakai ke sekolah, saya belajar sedikit demi sedikit bahwa saya adalah perempuan....yang seperti nukila amal  tulis di novelnya:jika kamu merasa tubuhmu tak lagi jadi milikmu, maka kamu adalah perempuan.
berangkat dan pulang sekolah adalah saat2 menyebalkan bila harus melewati tukang2 bangunan, atau asrama taruna dekat rumah, atau lembaga pemasyarakatan dekat sekolah.

dan lulus smp adalah saat memilih sekolah selanjutnya:sma 1. meski kakak saya mendaftarkan saya di spk (gw?perawat?) tapi saya tak peduli. saya ingin merasakan indahnya sma:D
dan di sma lah saya mengenal persahabatan lebih dalam, saya belajar berorganisasi, saya belajar disiplin dan tanggungjawab, saya belajar mengatur waktu, dan saya belajar untuk tidak terlalu idealis dan utopis....banyak hal buruk terjadi ketika saya sma karena saya berpikir terlalu ideal.....masa-masa buruk....tapi indah saat mengenangnya saat in....:)

lalu Tuhan memudahkan saya masuk UI. dan di sini saya diberi jauh lebih banyak kemudahan...banyak kesempatan yang dapat saya nikmati sebagai anak UI. di sini yang pasti saya mulai belajar mengatur uang, saya belajar mencari uang sendiri, saya belajar mengatur kuliah, belajar memilih teman, belajar bergaul dengan orang2 yang begitu banyak ragamnya, belajar memilah2 pemikiran dan ideologi, di sini saya belajar menjadi diri sendiri.............
dan saya belajar memahami laki-laki, dan saya belajar mengobati patah hati, dan saya belajar untuk tetap bertahan meski hati perih, dan saya belajar mempertahankan hubungan meski selalu gagal, saya masih terus belajar untuk memahami laki-laki dan cinta....seperti halnya laki-laki belajar memahami perempuan.

suatu ketika saya pernah begitu bahagia ketika saya baru saja jadian dengan teman kecil saya. saya bilang ke dia: mungkin ke sinilah Tuhan membawa kita.

waktu umur saya 7 tahun, hidup saya baik2 di banyuwangi, tapi tiba-tiba terjadi sesuatu pada keluarga saya dan saya mesti pindah ke pati. di pati itulah saya bertetangga dengan antok, pacar saya waktu itu. dan bermula dari itulah kami menjadi dekat...bermain bersama, satu sekolah, satu kelas, bahkan satu kota hingga kuliah, dan kami jadian! Tuhan telah memindahkan saya dari banyuwangi ke pati yang jaraknya 12 jam naik mobil untuk dapat berkenalan dengan antok, untuk dapat sekelas dengannya, untuk dapat menjadi dekat dengannya.

tadinya, ketika akhirnya kami putus, saya telah salah menyimpulkan alasan itu.........tapi akhirnya saya berubah pikiran. alasan saya tidak salah, mungkin memang harus ada antok sebelum saya menemukan seseorang yang tepat. seperti yang pernah dikirim seorang teman: maybe u will find a few wrong persons, so it will be so grateful when u find the right one. semoga!

dan suatu ketika, di akhir-akhir saya kuliah...saya tiba-tiba memutuskun ingin masuk MBUI. saya tidak tahu mengapa......tapi sungguh, saya menunggu Tuhan untuk segera menunjukkan alasanNya.
sungguh saya berharap, alasan saya sangat penting mengapa saya masuk MBUI.






Blog EntryAug 9, '05 9:38 AM
for everyone
hmmm.....mungkin ini pengaruh lagi pms.......gw jadi mellow berat!
tiba-tiba aja males stay longer nongkrong2 abis latian di gym sambil nungguin bis kuning, trus kita pulang bareng.
tapi gw memilih pulang sendiri, dan ga tau kenapa UI lagi gelap bgt, lampunya pada dimatiin, dan tiba2 gw nangis....mungkin ini akumulasi: pms gw+rencana febi ngejadwalin penampilan buat OPT di balairung!
yang pasti gw sedih banget. tadinya gw janji sama kakak gw di jogja untuk pulang mid-july (sesuai jadwal libur MB semula). gw janji nungguin kakak gw yang lagi hamil, sendirian, abis cerai...dan gw sayang banget sama dia. tapi tiba-tiba MB dipanggil buat tampil di istana negara 17 agustus, dan dari voting pasukan hasilnya kita berangkat ke istana!!well, gw ga masalah liburannya diundur jadi setelah 17 agustus, dan gw menjadwal ulang keberangkatan gw ke jogja menjadi tgl 18 agustus. kakak gw udah bikin rencana gw mesti bantuin dia ngapa2in aja selama gw disana. yang pasti gw bakal nemenin dia ke dokter, nemenin USG, bantuin bikin laporan penjualan, ikutan jaga apotik........gw cuma bentar di jogja karena liburan tinggal dikit, dan gw harus ngejagain kakak gw!
dan tadi...tiba2 febi mentek itu ngumumin kita bakal tampil di balairung buat anak2 baru!! setau gw kita ga perlu penampilan, anak2 baru dikasih liat VCD MBUI aja:(

so.....gw cuma mo bilang gw kesssssseeeeeelllllll!!!
dan, apapun yang terjadi....gw pengen pulang.....mestinya gw pulang ke rumah di banyuwangi: nemenin nyokap masak di dapur dan gw cuman iris2 buncis ga jelas bentuknya, ngepel rumah meskipun gw cuman bikin becek, ikutan milihin sayur belanjaan meski ujung2nya gw kebanyakan makan jajanan, nyabutin uban di antara rambutnya sambil gw bercerita tentang teman2 gw, tentang kuliah gw, tentang cita2 gw, tentang kansas, tentang perpus, tentang buku....tentang pacar, mantan pacar, calon pacar....mestinya gw pulang ke pangkuan nyokap gw.

mestinya gw pulang ke banyuwangi: bantuin bokap gw nyuci motor, gosokin raket tenisnya pake lilin biar awet, bantuin dia ngasih makan ayam, nemenin dia nonton seputar indonesia, beliin dia koran pagi, trus gw bisa cerita ke bokap tentang gerakan mahasiswa, tentang anak2 HMI, tentang anak2 PMII, tentang Muhammadiyah, tentang tingkah polah orang2 PKS di Depok, tentang dunia mahasiswa yang pasti bokap gw mendengarnya sambil matanya tertawa:D

mestinya gw pulang ke banyuwangi: rebutan motor sama abang gw, beliin sam soe abang gw dan ngabisin duit kembaliannya buat beli permen loli, gedorin pintu kamarnya buat ngambil STNK, nyuruh dia beliin indomie sekardus, nyuruh dia ngangkat galon ke dispenser.

mestinya gw pulang ke banyuwangi: duduk di meja makan, nungguin nyokap nyendokin nasi ke piring bokap, piring abang gw, piring gw, lalu piringnya sendiri.dan gw udah tahu pertanyaan pertama yang bakal terlontar dari mulut bokap setelah suapan pertama: kapan lulus, ndhuk?
biar pertanyaan itu menyebalkan, tapi kenyamanan di antara orang2 tercinta, jauh lebih gw inginkan..........

gw cuma pengen pulang..........................

the real difference between LOVE and LIKE
Message: love and like
In front of the person you like,
your heart beats faster.
But in front of the person you love,
you get happy.

In front of the person you love,
winter seems like spring.
But in front of the person you like,
winter is just a beautiful winter.

If you look into the eyes of the one you like, you
blush.
But if you look into the eyes of the one you love,
you smile.

In front of the person you like,
you can't say everything on your mind.
But in front of the person you love, you can.

In front of the person you like, you tend to get shy.
But in front of the person you love, you can show
your own self.

You can't look straight into the eyes of the one you
like.
But you can always smile into the eyes of the one
you love.

When the one you love is crying, you cry with
them.
But when the one you like is crying, you end up
comforting.

The feeling of love starts from the eye. But the
feeling of like
starts from the ear.

So if you stop liking a person you used to like, all
you need to do
is cover your ears. But if you try to close your
eyes, love turns
into a drop of tear and remains in your heart
forever ..

saya menyalin tulisan itu di sebuah bulletin board di friendster....dan seketika saya menangis. mengingat selama ini, ternyata saya tak pernah benar-benar mencintai seseorang....................saya bahkan jauh lebih egois dari orang yang sedang suka. saya bahkan tak akan peduli bila orang yang saya suka itu mempunyai perasaan yang sama kepada saya. saya lebih suka menikmati perasaan saya ini sendiri, tidak berbagi, dengannya sekalipun.

sempat terbersit janji sesaat setelah saya membacanya: saya berjanji akan tersenyum begitu mata saya bertemu matanya, saya akan menegurnya saat berpapasan di tangga, saat sholat bareng, saat-saat saya tidak tahu kapan Tuhan memilihkan waktu bagi saya dan dia untuk saling memahami hati .............

sungguh, saya hanya ingin dia membagi tangisnya dengan saya.........karena saya tak ingin sekedar "LIKE"





Blog EntryAug 5, '05 10:28 AM
for everyone
    Di suatu sore yang damai di sebuah pusat keramaian di Athena, terlihat seseorang bertubuh gempal berjalan-jalan mendatangi para pemuda di kota itu. Pada tiap pemuda ditanyakanlah suatu hal, entah itu tentang pemuda itu, tentang alam, atau tentang hidup. Para pemuda itu menjadi tertarik- bahkan terusik- dengan pertanyaan-pertanyaan si laki-laki gempal ini, lalu mereka berkumpul di waktu-waktu luang mereka untuk saling mendengarkan pertanyaan-pertanyaan. Dan itulah awal mula sekolah, berangkat dari pertanyaan-pertanyaan yang mengusik hidup di waktu luang damainya awan-berawan polis Athena. Dan laki-laki gempal yang dijuluki si lalat pengganggu itu adalah Socrates. Kisah hidupnya ditutup dengan seteguk racun cemara karena penguasa-penguasa negeri itu ketakutan melihat besarnya pengaruh “bertanya” pada para pemuda. Sebelum abad Masehi dibuka pun, “sekolah” sudah menimbulkan ngeri.

    Dan sejak itulah sekolah menjadi penting. Sekolah penting karena di situlah pengetahuan digodog dan dipertanyakan, rumus dan hukum-hukum ditemukan serta dipatahkan, pertanyakan-pertanyaan diajukan, fenomena-fenomena disodorkan, hidup direfleksikan, dan Tuhan pun tak sebatas barang pujaan.

Di sekolah, segala hal menjadi lebih bernyawa-atau sebaliknya-, seperti kata menjadi sastra, seperti padi menjadi Oryza sativa, seperti wicara menjadi gramatika, seperti ludah menjadi saliva, seperti tanya menjadi hipotesa, seperti Tuhan dalam gereja, dan orang melihat segala sesuatunya bernilai! Eureka! Maka lahirlah ilmu pengetahuan.

Lalu orang mulai melembagakan sekolah, mengatur segala sesuatu yang perlu diajarkan dalam sekolah, mengatur hal-hal yang tidak boleh diajarkan dalam sebuah kelas, mengatur buku-buku apa saja yang wajib dibaca, mengatur kata-kata murid kepada gurunya, mengatur bagaimana murid harus duduk, harus melipat tangan di atas meja, harus memakai baju apa di hari apa, memakai kaos kaki warna apa sepanjang apa di hari apa, bahkan mungkin mengatur bagaimana murid harus kencing di kamar mandi: Semua harus menunjukkan bahwa mereka “anak sekolah”! Dan orang, demi predikat “anak sekolah” mulai berani memasang tarif, mulai berani berteriak: “Pendidikan itu memang mahal!”

Di Indonesia, anak-anak kecil berseragam putih merah (entah siapa yang pertama kali mewajibkan anak SD wajib memakai baju warna itu) membawa pulang kartu SPP mereka untuk diberikan kepada ibunya dan lancar berkata: “Ibu, kata bu guru bayarnya sebelum tanggal sepuluh. Terus ada tambahan dana ekstrakurikuler, dana PMI, dana kesejahteraan guru dan karyawan, iuran koperasi, iuran darmawisata, dana rapat, iuran BP3, sama dana perbaikan sekolah, ya, Bu. Jangan lupa sebelum tanggal sepuluh,” kata si anak sambil meletakkan tasnya di atas tumpukan buku-buku yang belum dibayar lunas. Mungkin ibunya hanya seorang penjual nasi bungkus, atau seorang buruh cuci di rumah tetangga, atau ayahnya hanya seorang montir di bengkel kecil.

Sayang sekali si bocah kecil itu tidak mempertanyakan kepada gurunya apa itu dana ekstrakurikuler, apa itu dana PMI, dana kesejahteraan guru, dana ini itu…tidak ada yang mempertanyakan, karena si bocah tidak diajarkan!

Mestinya Socrates senang karena orang bergiat mencari pengetahuan. Mestinya Socrates lega karena anak-anak tinggal duduk di tempat yang teduh dan nyaman untuk mendengarkan pelajaran. Tapi jika bocah-bocah itu hanya mendengarkan dengan tangan terlipat dan mulut terkatup? Kapan akan terdengar teriak “Eureka!”?


Blog EntryJul 18, '05 9:17 AM
for everyone
hari ini gw jalan seharian ke kantor gramedia di jalan panjang...nyasar2 sampe arteri...jalan kaki balik lagi...mana pake high heels,lagi....:(
tapi untungnya kantornya ketemu...mbak2nya baek2.....jadi gw langsung post 4 proposal...dan semoga ditanggepin...jadi gw bisa dapet bonus...he..he..he..
then, gw jalan ke pim...masuk2 ke pigeon, le monde, osh kosh b`gosh, apalagi ya...gw lupa...oya...toys r us!
pokoknya gw pulang dalam keadaan teler..kaki gw lecet2....pengen banget teriak ANJING sepanjang jalan..mana Deborah lamaaa...bgt!!
tapi sekarang gw dah nyaman lagi...pake sendal kamar yang empuk...duduk lesehan...abis makan mienastel di warteg...hmm...kenyang deh!

Blog EntryJul 11, '05 9:02 AM
for everyone
Mulanya seseorang bernama R***y itu senantiasa mengisi hari-hari saya. tidak di kampus...tidak di kelas...tidak di kantin...tapi juga saat saya sudah kembali di kos...saat saya jalan-jalan di Bandung...saat saya berkeliling sendirian melingkari ringroad di Jogja, saat sosoknya bahkan tak tertangkap mata saya. Darinya lahirlah puisi, cerpen2 yang mungkin bagi orang lain terasa basi, dan bahkan calon novel!!..he..he..he...sungguh energinya *energi being in love* membuat saya tidak lagi mekanis menjalani jam demi jam: bangun, mandi, sarapan, kuliah, ngetik tugas, nongkrong di kansas, baca buku.....ada spirit yang membuat saya tersenyum selalu...
Dan akhirnya sedikit demi sedikit menyadari bahwa saya bahkan tak punya nyali untuk menatapnya dan berkata: aku suka kamu:)
Tapi dia tetap di hati....terngiang-ngiang namanya semanis permen loli.....:)


Dan setelah sekian lama saya berhasil mengendapkannya dalam palung biru hati, tiba-tiba seseorang muncul begitu mirip dengan R***y ini: seorang pemain perkusi.
Suatu pagi seperti biasa, jam sepuluh pagi saya sedang pemanasan sebelum latihan fullband hari itu. Tiba-tiba muncullah seseorang, menggendong snare drum, dan bergabung bersama para pemain perkusi lain. Wajahnya tidak saya kenal, tapi kehadirannya tiba-tiba kembali memunculkan R***y ini dalam sepersekian detik. Saya tak dapat melakukan apa-apa selain menatapnya *menatap punggungnya*, dan ketika ia berbalik arah, segera saya pura-pura sibuk dengan partitur saya.
Dan seharian itu saya banyak melakukan kesalahan!! Karena mata saya berbagi tugas: melirik anak-anak perkusi sedang latihan......&....partitur saya.....&....konduktor saya.

Well, hari-hari selanjutnya....saya tidak tahu bagaimana menyebutnya: saya tidak dapat mengatakan saya sedang jatuh cinta....tapi bahkan saya setengah benci padanya: karena dia tidak pernah menegur saya, menanyakan nama saya, atau menanyakan hal-hal tidak penting, seperti: "lo bariton berapa?", "lo dah apal chart belom?", atau bahkan "lo mo makan siang dimana?".....tapi saya juga tidak pernah melakukan hal-hal itu padanya. Saya tidak punya keberanian untuk itu.

Hmm....saya bahkan tidak tahu nama panjangnya, dia sudah punya pacar atau belum. saya lebih sering diam membisu jika kebetulan kami berdekatan sedang mengenakan sepatu di depan musholla....atau kebetulan berlari beriringan saat sedang pemanasan. Saya tidak tahu apa-apa tentang laki-laki ini....dia hanya mirip dengan R***y yang pernah membuat saya demikian terobsesi...akankah ini juga akan terulang kembali pada pemain perkusi ini?

Saya tidak tahu. hanya saja, saya tahu tiupan bariton saya tak lagi mekanis mengikuti partitur, karena di belakang saya, anak-anak perkusi *termasuk dia* sedang menyelaraskan nada...



TUHAN, HARI INI AKU KETEMU SHOFA DAN BINHAD Tuhan, hari ini aku jadi panitia bedah buku: In The Name of Sex.

Kau sudah baca, belum?

Kalau belum, baiklah akan kuceritakan sedikit untukMu. Isinya tentang petualangan seksual penulisnya, Shofa Ihsan, who is Shofa ini lulusan pesantren, anak filsafat UGM, sekarang lagi di UIN. Tapi bukunya bagus sih, paling nggak dia menganalisis fenomena seks ini dengan pemikiran Faucoult atau Baudrillard, dan banyak juga menyebut-nyebut kitab kuning. Tuhan, dari buku ini aku tahu Qurratal Uyun, itu lho…kitab kuning tentang sex, mmm….aku boleh belajar kitab ini, nggak?


Tuhan, dalam bedah buku itu datang juga Binhad Nurrohmat, yang puisinya…mmm…gitu deh…aku cuma ingat dia pernah berpose seksi dengan paha mulusnya di majalah djakarta! Lagi, dia juga santri, Tuhan!

Waduh, untung Moammar Emka nggak bisa datang!Kalau mereka bertiga dipertemukan, buku apalagi yang akan mereka tulis?


Tuhan, seusai bedah buku itu, teman-temanku berebutan minta tandatangan, salaman, berpelukan, foto-foto bareng….dan aku menyingkir di pojok ruangan menghitung uang hasil penjualan buku….teman-teman memanggil riang…aku menggeleng…


Tuhan, aku tidak mengerti kitab kuning…ayahku hanya mengajarkan kitab putih…atau tarjih yang tiap muktamar direvisi…atau menyuruhku mendengarkan kuliah subuh sebelum sekolah…atau sekedar memasukkan aku dalam kelompok kajian minggu pagi.

Dan Tuhan, aku tergagap-gagap dengan segala paradoks ironi kontradiksi ini…dan gelisahku belum terjawab hingga hari ini…


Apakah Rasulullah ku sedang di sorga, bertelekan di atas dipan-dipan emas berlapis sutera bersama bidadari-bidadari bermata jeli?


( kosan gw, june 12 05)




Blog EntryJun 14, '05 12:29 PM
for everyone

Kehidupan yang centang perentang penuh sengkarut ini,

TakdirMu atau takdirku?


Subuhku tak lagi sunyi suci, Tuhan

Di pelataran masjid Al-entah…

mobil temanku menunggu

Dan hentak riuh Embassy masih kami bawa ,
Dengingnya masih terngiang di kupingku yang sedang kubasuh air wudlu

Hayya ala sholat…
Ya Robbi, aku dengar panggilanMu….(untukku: assholatu hairun minan naum…)
Dan usai empat rakaat pembuka hari itu,
Kami mulai mengajukan pertanyaan sepele:
“Sarapan dimana siang ini?”

Dan seharian itu kami habiskan di sebuah toko buku,
Sambil memesan salad tuna sandwich plus capuccino,
Garpu di tangan kanan dan A Radio, I Kill di tangan kiri
Bali Lounge manis seperti permen loli leleh di kupingku

“Eh, ada masjid lucu!” teriak temanku pengoleksi beha-beha lucu,
tangannya menunjuk sebuah masjid baru berkubah biru pastel lucu,

“……coba kubahnya dua…”gumamnya sambil mengerjap nakal, lucu!

Dan ashar kami tunaikan di masjid biru lucu demi temanku pengoleksi beha-beha lucu!


Di perjalanan pulang, temanku pengoleksi beha-beha lucu masih memikirkan masjid biru lucu itu: “Kalo Freud tahu bentuk kubah kayak susu begitu, dia pasti seneng, karena ternyata simbol agama nggak jauh-jauh dari imaji seksual, dan semakin sempurnalah argumen dia bahwa agama adalah tanda ketidakdewasaan,” ceracau temanku itu.

Dan sesaat kemudian, tampaklah samar-samar lalu semakin jelas kubah istiqlal yang montok, besar, dan menggairahkan…..dan kami semobil cekikikan…karena sesudahnya menara-menara tegak katedral terpancang menantang.

“Oh…Freud!” lenguh temanku, sedang mengalami orgasme visual.


Tuhan, tepat ketika matahari terbenam kami semobil tiba di kosan.

Masih sempat kulukiskan matahari kuning oranye bulat telor setengah matang di sketchboard-ku,

Masih sempat kutambahkan bulan malu-malu, sambil menunggu padam sedotanku.

Maghribku santai hari ini, Tuhan.

Oya, aku janji akan menyelesaikan Al Kahfi sambil menunggu Isya,

Mengikuti jejak ibuku yang selalu membacanya di malam Jumat: malam ini.


Dan hariku kututup dengan salam Isya

Mataku kututup dengan bismika allahumma ahya wa bismika amuut…


Tengah malam aku terbangun reminder: BIKIN ANALISIS JOE MILLIONAIRE, DIKUMPULIN JAM 8!!


Tuhan, menurutMu aku harus tahajud atau tidak?

Iya…tidak…iya…tidak…iya…TIDAK!

Aku akan tahajud karena aku bangun untuk tahajud, bukan karena paper!OK?


Jadi, Tuhan…saat ini aku sedang mengetik tugasku, membayangkan Marlon berkencan dengan Hetty, Rini, atau Tari di pulau dewa-dewi bertelanjang dada (Ya ampun..tayangan kayak gini mesti dianalisis pake teori Lacan atau Bu Gadis akan menambahkan catatan dengan tinta merah: mana kutipan dari Lacan atau Cixous atau Kristeva?), diselingi curhatan ala bulletin board friendster ini…sambil menunggu jam 8 pagi tiba…sambil menunggu subuh tiba…..dengan asbak hampir penuh abu…happy-tos tumpah di lantai bercampur buku-buku, remah-remah roti bagelen kiriman dari kakak di jogja, bungkus kecil-kecil cloud 9 classic, enervon c, biogesic, sekotak frozz, nutrisari hangat, energen vanilla ….sambil berharap rabu malam segera tiba……


(kosan gw, jam 3 pagi, 12 june 05)





Blog EntryMay 24, '05 9:22 AM
for everyone

 

Saya akan bercerita tentang sebuah film yang nggak sengaja saya tonton di TV7. Judulnya “Pleasentville”, strarring Tobey Maguire.

Film ini bercerita tentang seorang cowok bernama David, yang suka banget nnonton serial TV zaman dulu berjudul “Pleasentville”. David tinggal bersama kakak perempuannya Jennifer, dan ibunya yang selalu bertengkar dengan mantan ayahnya. David nonton serial TV itu berulang-ulang sampai hafal setiap adegannya. Kehidupan di Pleasentville yang bertolak belakang dengan kehidupannya membuatnya tak bosan dengan serial ini, dan di lain pihak ia ingin hidupnya pun sedamai di Pleasentville.

Pleasentville bersetting kuno banget (hitam-putih) dan mengisahkan tentang sebuah keluarga yang sangat bahagia, which is, semua keluarga di Pleasentville pun seperti itu. Pleasentville ini adalah sebuah wilayah somewhere unknown yang sangat damai. Semua orang saling menyayangi, anak-anak rukun, keluarga harmonis, sekolah tenang, and everybody`s happy!! Disebutkan dalam pelajaran geografi di sekolah Pleasentville, hanya ada satu jalan utama yang melingkari Pleasentville, dan tak ada seorang pun berpikir dan tahu tentang sesuatu di luar Pleasentville.

Pada suatu hari, Jennifer dan David berebut remote TV. David sangat ingin nonton Pleasentville sementara kakaknya tidak. Mereka bertengkar dan akhirnya remote TV itu jatuh dan hancur. Tiba-tiba, seseorang datang mengetuk pintu. Ternyata dia adalah tukang servis TV dan dia memberikan David remote TV baru, padahal David sama sekali belum memanggil tukang servis TV. But, who cares? David switched TV on, and Pleasentville was playing.

Well, di bagian ini saya kehilangan adegan sekian detik (anyway, saya harus cuci muka dan gosok gigi, it was midnite). Tapi, akhirnya saya sadar, bahwa ternyata begitu remote TV dinyalakan, David dan Jennifer sudah masuk ke dalam TV menggantikan Bud dan Mary Sue (Bud dan Mary Sue adalah kedua anak George dan Betty, keluarga yang menjadi fokus dalam serial ini). Hmm…banyak perubahan yang terjadi begitu Bud dan Mary Sue tiba-tiba “digantikan”. Secara, aslinya David dan Jennifer adalah anak-anak abad 21, yang jelas sangat berbeda dengan kehidupan abad….(I don`t know, TV hitam-putih tuh taon kapan?).

Perubahan pertama dilakukan Mary Sue (yang dalamnya sebenarnya si Jennifer). It`s about sex. Ternyata di Pleasentville, orang-orang tidak melakukan hubungan seks sebelum menikah. Bahkan mungkin ketika setelah menikah, hubungan seks hanya sekedar untuk ber-reproduksi, dan setelah hamil, mereka tidak melakukannya lagi, mengingat di Pleasentville, suami-istri tidur terpisah dan ada aturan tentang lebar ranjang yang boleh dijual di toko. Bahkan, ibu Mary-Sue yang sudah punya dua anak tidak tahu apa itu seks.

Mary Sue berkencan dengan temannya, Seith. Mary Sue mengajaknya ke pinggir danau dan umumnya kencan dalam kehidupan Jennifer sebelum masuk menjadi Mary Sue, berkencan selalu berakhir dengan making love. Meskipun pacar Mary Sue sangat kaget, well…u knew, he loved it. Setelah kencan itu, pacar Mary Sue untuk pertama kalinya melihat bunga mawar ber-warna merah (tadi sudah disebutkan bahwa Pleasentville berwarna hitam-putih-abu2). Secepatnya, teman-teman mereka pun making love dengan pacarnya masing-masing: di jok belakang mobil, di danau…. Suatu hari, Betty (ibu Mary Sue dan Bud) bertanya, apa yang dilakukan anak-anak ketika berkencan, dan dengan mudah Mary Sue menjawab: seks. Hmmm…Betty bertanya lagi: What`s sex?

Singkat cerita, Mary Sue menerangkan “what`s sex” kepada ibunya “and how to enjoy sex without partner”. Adegan berikutnya, Betty enjoying sex without partner in the bathroom, and it is her first orgasm, and she is sooooo happy!! Sementara di kamar, suaminya, George sudah tidur di ranjangnya sendiri.

Bud (yang di dalamnya David) bekerja di sebuah bar, dan temannya Bill adalah seorang pelukis hiasan Natal. Ia harus menunggu Natal tiba dengan pekerjaannya sehari-hari yang sangat membosankan: memanggang roti, menggoreng daging, menyelipkannya ke dalam roti, lalu menggorengnya lagi hingga matang menjadi burger. Sore hari, ketika bar-nya tutup, ia menutup pintu, menutup jendela dan tirai, lalu menutup kasir. Semua berurutan dan membosankan. Satu-satunya hal yang sangat diinginkannya adalah menggambar hiasan Natal, karena ia SUKA!! Bukan karena ia HARUS!!

Suatu hari Bill yang umurnya sebaya ibu Bud, Betty, berkunjung ke rumah Bud. Di sana ia melihat Betty hari itu sangat cantik, dan muncullah chemistry di antara mereka. They are in love. Adegan berikutnya, Bill melukis Betty dalam warna-warna yang sebelumnya tidak pernah ada di Pleasentville. Semalaman Betty berada di studio Bill. Bill bahkan melukis tubuh telanjang Betty, colourful and wonderful, and of course they`re making love. Tubuh dan wajah mereka pun berwarna (oya, dalam film ini, orang-orang yang sudah menemukan “kebahagiaan”, perubahan dalam hidup mereka, diri mereka terlihat berwarna-nggak hitam putih lagi, mereka pun akan melihat daun berwarna hijau, bunga-bunga merah, gadis-gadis berpipi pink, dan semuanya jadi lebih indah). Sementara di rumah, suami Betty, George pulang dan mendapati rumahnya kosong, istrinya tidak ada dan tidak meninggalkan makanan untuk makan malam. Sementara di luar, terjadi keanehan, tetesan air berjatuhan dari langit. Orang-orang Pleasentville ketakutan, mereka tidak pernah mengalami hujan sebelumnya. Sebelumnya pun orang-orang Pleasentville tidak pernah melihat kebakaran, karena ketika pohon di halaman rumah Bud terbakar, pemadam kebakaran yang dipanggil Bud tidak tahu harus melakukan apa. Baru ketika akhirnya Bud menunjukkan cara menggunakan selang air dan menyiram apinya, mereka baru menyadari bahwa itulah gunanya selang air! (Di Pleasentville, pemadam kebakaran bertugas menyelamatkan kucing yang tidak bisa turun dari pohon. Jadi, ketika Bud berteriak: Fire!Fire!, mereka tenang-tenang saja. Baru ketika Bud berteriak: Cat!Cat!, para petugas pemadam kebakaran ini bergegas ke lokasi untuk menyelamatkan kucing).

Di sekolah, perubahan besar terjadi. Selama ini, buku-buku di perpustakaan halamannya kosong. Suatu hari Mary Sue menceritakan petualangan Huckleberry Finn, lalu tiba-tiba buku tebal yang berjudul “Huckleberry Finn” terisi dengan tulisan. Begitu juga dengan buku-buku kosong lainnya, langsung terisi dengan tulisan begitu Mary Sue atau Bud menceritakan isinya. Anak-anak jadi gemar membaca dan rajin ke perpustakaan. Baju-baju mereka pun terlihat berwarna-warni.

Suatu hari, Bill memajang lukisan telanjang Betty di jendela bar-nya. Whew…orang-orang berkerumun dan marah. Mereka melempari jendela itu dengan batu, mereka menghancurkan bar itu, membuang stoples permen warna-warni, menumpahkan cat warna Bill, dan menghancurkan juga lukisan-lukisan yang lain……they hate colours. Well, walikota Pleasentville merasa bahwa perubahan itu telah menghancurkan kenyamanan hidup mereka. Ia mengadakan rapat warga dan menetapkan bahwa warna selain hitam-putih-abu2 dilarang di Pleasentville, dilarang menjual payung atau apapun yang berhubungan dengan cuaca, dilarang menjual ranjang yang lebarnya lebih dari 20 inci, dilarang menyanyikan lagu-lagu kecuali dari penyanyi-penyanyi yang telah ditentukan, dan dilarang mengajarkan pelajaran sejarah di sekolah. Tapi Bill dan teman-temannya tidak mematuhi peraturan itu. Bahkan Bill dan Bud membuat lagi satu lukisan besar di jendela bar, penuh warna-warni menggairahkan, dengan obyek lukisan laki-laki dan perempuan yang sedang berciuman dan buku-buku sastra. Mereka pun dijebloskan ke dalam penjara. Walikota memimpin persidangan untuk menghukum mereka, dan ketika Bud menanyakan mana pengacara untuk mereka, walikota menjawab: Kami ingin persidangan berjalan damai, jadi tidak perlu ada pengacara. Bud memprotes keras kesewenang-wenangan walikota, mereka berdebat, dan ketika walikota sudah mencapai puncak kemarahannya, tiba-tiba wajahnya berubah memerah. Betty melemparkan cerminnya, lalu memperlihatkan cermin itu ke wajah walikota. Walikota merasa sangat malu melihat wajahnya sendiri berwarna, melanggar peraturan yang dibuatnya sendiri. Walikota keluar ruangan sidang dan berlari meninggalkan warganya. Di luar, terlihat keajaiban, bunga-bunga berwarna, rumput menghijau, mobil berwarna, baju berwarna, well…semuanya berwarna…and it`s so wonderful!!

Hmm….Pleasentville mengajarkan kita banyak hal. Perubahan, gairah, dan kemauan, dan tentu saja pengetahuan!! Film ini mengingatkan saya pada Dead Poets Society. Hampir sama: orang-orang yang bergairah, dan berubah, hanya dengan sedikit menggeser cara pandang, dan dunia akan lebih berwarna. Mungkin tidak melulu damai seperti di Pleasentville, karena, seperti kata Bud ketika ditanya ada apa di luar Pleasentville, dia menjawab: ada bising, ada bahaya, ada seksi, ada bodoh…..fantastis!

Jadi, masihkah Anda bertahan di lingkar dalam negeri damai utopia Pleasentville?


Pages:12